A Quantum Leap : Mengisi waktu-waktu kehidupan

5:31:00 AM



Cita-cita adalah refleksi dari keinginan dan harapan, yang dipetakan sejak kita kecil, agar hidup kita memiliki arah dan tujuan.

Menjalani secuil waktu kehidupan sampai dengan saat ini,

menjadi berat karena menganggapnya sebagai beban akhirnya kelelahan,

menjadi mudhorot karena menganggap kehidupan duniawi sebagai kesenangan tidak terkendali akhirnya membuat kita tidak mampu mengatasi rintangan,

menjadi putus asa dan frustasi karena menganggap hampir seluruh waktu kehidupan yang dimiliki selalu berisi tentang kesulitan dengan topeng keikhlasan atas ujian Allah swt, juga tidak melegakan.

Aktivitas utama kita menjalani kehidupan ini adalah mencari nafkah, disebagian besar rangkaian aktivitas yang kita lakukan, sebenarnya dengan mencari nafkah kita seharusnya bisa memaknai bahwa mencari nafkah itu agar kita bisa mempertanggungjawabkan hidup kita,
bertanggung jawab atas titipan kewajiban yang Allah berikan, anak, harta dll
bertanggung jawab atas kehidupan kita bisa memberi makna
apapun itu, tapi semua itu adalah kewajiban kita bertanggung jawab di hari akhir kelak..

Kehidupanku, sangat auh dari sempurna, sangat jauh dari harapan dan cita-cita yang aku miliki sebelumnya, seiring waktu, aku hanya belajar memahami terus dan terus dalam setiap peristiwa yang aku lalui dengan semangat keyakinan yang satu, Allah SWT selalu ada untuk ku.

Tumbuh dan berkembang dari keluarga yang tidak terlalu sejahtera, tapi alhamdulillah berkecukupan dalam arti harafiah nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua sebagai bentuk mensyukuri. Tidak mudah memang, tapi dengan mensyukuri, orangtua membuat aku yakin bahwa setiap sekecil apapun peristiwa yang ada dalam kehidupan kita punya makna yang baik dan selalu menjadi bekal memotivasi diri untuk terus menjalani kehidupan ini.

Sudah lama sekali aku menghapus seluruh gambaran cita-cita dan harapan diri pribadi, karena aku berpikir bahwa kita akan terus berada pada situasi 'de javu', dalam konteks apapun, kita akan selalu ups-and-downs, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi setiap dari pada ups-and-downs tersebut.

Mungkin suatu saat tiba pada masaku untuk berangkat kekehidupan lainnya, akan ada anggapan bahwa sampai aku menutup mata, kebahagiaan itu tidak pernah ada dalam hidupku. Jangankan orang lain, kadang aku pun saat lelah berpikir demikian. Akan tetapi, aku selalu berkata kepada Ibuku, bahwa kebahagiaan, kekayaan, kesejahteraan yang kita miliki bukan berada di dunia ini, akan tetapi di dalam kehidupan kita selanjutnya.

Mungkin kita melarat dikehidupan dunia, akan tetapi jika kita menjalani secara istiqomah, Allah telah membangunkan sebuah istana dikehidupan kita lang lain, amal ibadah kita adalah ibarat bahan bangunan semen, batu bata dan lainnya yang akan menjadikan kehidupan kita nanti sejahtera atau tidak.

Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh teman-teman diseklilingku, saat aku menjalani kewajiban mencari nafkah aku dalam kehidupan ini yang awalnya terkait dengan nama besar, posisi yang tinggi, renumerasi dan hasil nafkah yang luar biasa tinggi dan lainnya, lalu tiba-tiba saja aku memilih untuk menghentikan itu semua dan membangun sebuah aktivitas yang dengan susah payah melakukan semuanya sendiri, mulai dari setup usaha, menjadi kurir sendiri, melakukan aktivitas clerical sendiri dan lain sebagainya secara paralel dengan kewajiban rumah tangga yang aku miliki.

Juga mungkin tidak pernah terbayangkan, saat usahaku mulai berkembang, aku melakukan sharing-sharing rizki kepada yang lain, bahkan mendahulukan orang-orang yang benar-benar aku hargai untuk melakukan pekerjaan untuk kebaikan hidupnya, membuat kehidupan mereka lebih baik lagi, membagi kantong hasil usaha.

Aku pikir, hidup untuk berusaha itu, bukan melulu urusan penghasilan kesejahteraan kekayaan, kemakmuran, tapi ada nilai-nilai yang memberikan kepuasan bagi kita, memiliki makna dalam kehidupan orang lain. Memiliki makna bahwa kita tetap beruapaya membukan peluang manfaat bagi orang lain.

Mendapatkan kesempatan untuk bisa memberikanmanfaat bagi orang lain, bagaikan candu, kebahagiaannya tidak bisa diukur secara finansial. Aku kemudian, melompat kepada aktivitas-aktivitas voluntary, yang akhirnya aku yakini sebagai "life is the game", permainan bagi kita untuk bisa survive dan cope atas semua anugerah dari Allah, apapun bentuknya, bisa kah kita cope dengan segala situasi ?

Ada ekspektasi memang pada fase ini, karena aku memiliki harapan orang akan percaya bahwa apa yang aku lakukan adalah hanya untuk kebaikan untuk diri mereka secara harafiah dunia dan akhirat.
Ada benturan, banyak sekali, karena kita deal dengan orang-orang yang sangat berbeda dalam memandang kehidupan ini, dan aku terpuruk saat mendapati kendala-kendala seperti itu. Di satu sisi, aku menganggap bahwa jika kita melakukan sesuatu, kita harus punya "passion", ini menyangkut sebuah tujuan apa yang kita lakukan. Berharap juga semua bisa berhasil.

"Passion, needs emotinal blending"
tentulah. dan aku teraduk dalam pusaran itu, pusaran kegagalan saat faham yang aku yakini sebuah kebenaran tidak bisa dengan lancar diterima atau bahkan ditolak dalam komunitas atau kelompok atau tim kerja yang aku anggap sebagai batu loncatan atau terminal singgah dari seluruh rangkaian kehidupan aku.

Tidak jarang aku frustasi, saat-saat seperti itu, aku perlu waktu untuk diam, dan mencari alternatif  lain dengan pelan-pelan membangun kembali apa arti "istiqomah" dalam kehidupan ini. meskipun ini seperti terus berulang. tapi ya hidup memang demikian.

Berusaha kuat memahami QS Al Ashr, surat pendek yang memiliki 2 prinsip kehidupan yang utama, yaitu tentang kebenaran dan kesabaran. Ini melegakan. Karena aku memahaminya sebagai kewajiban kita dalam kehidupan ini adalah memberi manfaat dalam kebenaran, dan jika semua upaya sudah ditempuh dan hasilnya tidak sesuai harapan, 1 hal yang bisa kita lakukan adalah melatih kesabaran. Karena kembali kepada Alquran, adalah upaya terbaik untuk membuat hati kita lega.

Kita tidak akan pernah bisa menghentikan semua rangkaian kehidupan kita ini, betapapun situasi kehidupan yang kita lalui, satu hal yang paling aku takuti adalah, aku bukan menjadi orang-orang yang diberikan Petunjuk oleh Allah SWT.

Kembali kepada aktivitas yang sarat dengan faham bahwa kita mengisi waktu-waktu kehidupan kita didunia dengan memberi manfaat kepada sesama, adalah satu-satunya pilihan...agar kita bisa membangun sebuah istana di kehidupan kita kelak, tanpa memperhitungkan hasil akhir aktivitas kita apakah ini diterima atau tidak oleh orang-orang sekeliling kita, bahkan dunia, it doesn't count, setelah kita mengupayakan yang terbaik dari semuanya, hanya Allah yang memiliki kuasa untuk mennetukan hasilnya dan menggerakkannya perubahannya, karena ini diluar dari kekuasaan kita. Allah memberikan percontohan-percontohan bahwa kita harus menyadari keterbatasan kita sebagai makhluk ciptaanNya.

Cita-cita, harapan, kebahagiaan, kekayaan, kemakmuran, kedigdayaan, harga diri dan kebanggaan, kepandaian, dan lain sebagainya, memang perlu dikesampingkan, dan aku belajar dan berlatih keras untuk hal itu.

Disatu sisi, mungkin, orang2 disekitar melihat aku (tampak luar) adalah orang yang sangat buluk dan sangat melarat, dan disisi lainnya, bahkan orang-orang melihat se'belel' apapun penampilan aku, tapi tidak bisa menyembunyikan kesejahteraanku. padahal keduanya mungkin salah.

Aku tidak merasa aku melarat, tapi aku juga tidak memiliki kesejahteraan. Aku datar saja.
yang berbeda mungkin dalam memandang, bahwa aku hanya memahami, bahwa aku berusaha "itiraf"
Aku bukan orang yang sempurna menuntut Allah agar aku masuk SurgaNya.
tapi aku juga tidak sanggup berada didalam NerakaNya.

What are my Challenges ?
menghapur semua harapan dan mimpi, cita-cita, keserakahan finansial, melainkan mengejar semua pembayaran-pembayaran yang melahirkan amal kebaikan untuk kehidupan selanjutnya. dan ini memang cukup berat. karena manusia diciptakan dengan ego, ego meraih kesenangan emosional entah itu dari keuangan, kebenaran, kemasyuhran dan semua yang terkait dengan Syahwat (nafsu duniawi) Syahwat pikiran, hati, dan lainnya.

Aku harus melompat, dari tempat tinggi ke jatuh ke tempat yang paling rendah sekalipun, untuk menantang diri aku selalu menghadapi perjuangan, karena perjuangan itu sarat dengan doa, dan doa merupakan kesempatan komunikasi terbaik yang Allah berikan kepada kita.

Perjuangan yang aku hadapi saat mengalami kendala dalam membangun sebuah karya, perjuangan untuk melihat dan mengatasi bagaiman orang-orang semua melihat situasi yang aku hadapi, merendahkan atau meninggikan, tetap sebuah perjuangan untuk bisa cope dengan siuasi apapun.

Orang mungkin tidak akan memahami, kenapa aku memilih hidup dengan situasi demikian, ibaratnya seperti ini :

  • setelah meraih puncak, lalu tiba-tiba terjun ke jurang : bekerja dengan orang lain lalu memilih usaha sendiri
  • Saat berhasil memanjat jurang, lalu aku memilih belajar terbang : saat usaha sendiri mulai sudah tinggal menikmati hasil dari wira usaha, justu aku pergi ke situasi lainnya
mungkin, kalian teman-temanku, juga tidak akan pernah memahami, saat aku sudah dalam fase apa yang kalian pikirkan saat ini (entah bagaimana pikiran kalian)... aku tiba-tiba saja, pingin menjadi orang biasa, yang memiliki keinginnan untuk menjadi :

  • Tukang penjual Gado-gado
  • Tukang pembuat Wood Carving
Tukang apa saja, yang bisa membuat kehidupan aku menjadi lebih memiliki warna yang tidak membosankan, akan tetapi arah kehidupan ku tetap 1 yaitu mengisi waktu-waktu kehidupan ini untuk memberi manfaat bagi sesama sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang aku miliki, dan itu tidak mudah, tapi keyakinan aku atas Allah SWT yang menjadikan aku tidak putus asa dan berhenti.

Aku ingin membuka peluang-peluang yang baik untuk orang-orang disekeliling aku, memberi saran dan pendapat, tetap saja memiliki kegagalan yang besar bisa dimengerti orang lain dan mau percaya bahwa saran aku akan berhasil, Karena mereka pasti memiliki kendala sesuai type kehidupan yang mereka miliki, terutama dalam memandang seberapa ringan "langkah pertama untuk mereka ambil"

A journey must begin with a single step.

dan aku berusaha keras, selain memberikan input dan saran (dalam konteks Al Ashr saling nasihat menasihati kebaikan), aku juga akan menjadi "Langkah Pertama"nya, atau menjadi bagian pendamping dalam langkah pertamanya, dan berusaha keras mewujudkan bahwa apa yang aku sarankan ini akan berhasil untuk mereka.

Once it settled, i should make another Quantum Leap




















You Might Also Like

0 comments